Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggungjawab terhadap
kepemimpinannya…(Shahih Al-Bukhari).
Teori kepemimpinan terus berkembang pesat. Karena kesuksesan tidak akan bisa diraih tanpa memiliki kemampuan untuk memimpin, terutama memimpin diri sendiri (self leadership). Muhammad SAW telah menunjukkan jejak kepemimpinan di berbagai bidang. Termasuk memimpin diri sendiri, yang menjadi dasar kepemimpinan.
Rasulullah SAW bersabda, “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya…(Shahih Al-Bukhari)”. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan kepemimpinan mendasar yang dimiliki oleh setiap orang adalah kepemimpinan terhadap diri sendiri.
Dalam kesempatan lain Muhammad SAW bersabda, “Orang yang hebat itu bukan orang yang cepat serangannya. Melainkan, orang yang hebat itu adalah orang yang mampu
mengalahkan nafsunya ketika sedang marah…(Shahih Al Bukhari)”.
Self leadership merupakan dasar dari segala bentuk kepemimpinan. Dan menegakkan disiplin atas diri pribadi (self discipline) merupakan aktifitas paling berat. Karena dalam memimpin diri sendiri kita sering melakukan pembenaran untuk memaafkan diri sendiri (self excuse) kalau kita berbuat salah dan kita jarang menghukum diri sendiri (self punishment).
Kemampuan memimpin diri sendiri sangat berpengaruh terhadap kepemimpinan terhadap orang lain.
Jagdish Parikh seorang alumni Havard Business School dalam bukunya Managing Your Self mengemukakan, jika seorang tidak mampu memimpin dirinya dengan baik, maka ia tidak akan dapat memimpin orang lain dengan efektif.
Pada gilirannya, memimpin diri sendiri berarti mengembangkan kemampuan dan proses untuk mengalami tingkat pengenalan diri (self identity) yang lebih tinggi, melebihi tingkat ego reaktif.
Hal ini akan memfasilitasi perjalanan dari batas-batas reaktif (reaktif constraints) menuju keberanian yang proaktif dan pada akhirnya membawa pada kesadaran kreatif. Sehingga memungkinkan seseorang untuk mampu mengelola hubungan dengan orang lain, peristiwa, gagasan, yang merupakan hal utama dari kepemimpinan.
Muhammad SAW telah memberi tauladan kepemimpinan di berbagai bidang. Seperti memimpin bisnis, keluarga, dakwah, sosial politik, sistem hukum, pendidikan, dan
strategi militer. Kesemuanya itu tidak lepas dari keberhasilan memimpin diri sendiri.
Dalam berbagai kesempatan Muhammad SAW mengingatkan tentang pentingnya kemampuan penguasaan terhadap diri sendiri. Misalnya ketika Baliau pulang dari Perang Badar Al-Kubra, Beliau berkata kepada para sahabat, “Kita pulang dari perang kecil
menuju perang yang lebih besar.”
Para sahabat saling berpandangan dan bertanya, “Bukankah perang yang baru dilalui adalah perang yang besar, apa perang yang lebih besar dari perang itu, wahai
Rasulullah?.” Muhammad SAW menjawab, “Perang melawan hawa nafsu.”
Self leadershif pada intinya adalah kemampuan diri dalam mengendalikan hawa nafsu. Seorang bijak berkata, “Setiap musuh yang anda perlakukan dengan sopan akan menjadi kawan, kecuali hawa nafsu. Semakin lunak anda padanya, ia akan menjadi semakin melawan.”
Pilihannya ada dua, kita yang memimpin nafsu itu, atau nafsu yang akan memimpin diri kita. Karena kalau kita sudah dikuasai oleh nafsu, tidak ada yang dapat mengendalikannya selain kita sendiri.
Kepemimpinan sudah seharusnya dimulai dari lingkungan terkecil, yakni diri sendiri.
Muhammad SAW mengatakan, “Ibda’bi nafsik!” yang artinya mulai dari diri sendiri.
Pentingnya memulai kepemimpinan dari diri sendiri dan dampaknya yang besar menjadi catatan seorang pendeta di abad ke 12 M.
“Ketika saya masih muda, saya ingin merubah dunia. Ternyata itu sangat susah, jadi saya
akan berusaha merubah bangsa. Ketika saya tidak dapat merubah bangsa ini, saya mulai
memfokuskan untuk merubah kota. Ternyata saya tidak dapat merubah kota dan saya
sudah mulai tua, kemudian saya berusaha merubah keluarga. Sekarang, sebagai seorang yang tua, saya menyadari perubahan yang dapat saya lakukan adalah merubah diri sendiri, dan tiba-tiba saya menyadari kalau saya merubah diri saya
sendiri sedari dulu, saya dapat memberi dampak perubahan itu kepada
keluarga. Dari keluarga itu, saya dapat memberikan dampak perubahan kepada kota.
Dampak itu dapat memberikan perubahan pada bangsa dan dunia ini”.
*Self
Develoment & Personal Leadership dalam “Muhammad SAW : The Super
Leader
& Super Manager” oleh Dr. Muhammad Syafei Antonio, M.Ec (Nio Gwan
Chung).
