Manusia tidak boleh menyalahkan takdir sebagai alasan untuk tidak beribadah dan berusaha. Seorang tidak boleh berkata, ”Jika aku telah ditakdirkan baik dan beriman, mengapa aku harus bersusah payah beribadah dan beramal saleh? Bukankah sudah pasti aku akan masuk Surga?”
Seorang juga tidak sepantasnya berkata, ”Jika aku telah ditakdirkan menjadi kafir, apakah manfaatnya jika aku berusaha menjadi mukmin? Bukankah yang kulakukan akan sia-sia, karena takdir telah menetapkan bahwa aku akan masuk neraka?”
Kata-kata seperti itu jelas keliru dan tidak boleh diucapkan. Tidak sewajarnya kita mengatakan,”Jika nasibku telah ditentukan dan ditetapkan sejak lahir, apa untung dan ruginya bila aku bekerja keras dan beribadah sekarang ini?”
Contoh yang paling baik untuk kita renungkan adalah cerita Nabi Adam as. dengan Iblis la’natullah. Iblis menyalahkan takdir yang menyebabkannya durhaka kepada Allah. Kemudian ia menjadi kafir dan dikeluarkan dari rahmat Allah dan diusir dari sisi-Nya. Nabi Adam as pun mengakui kesalahannya. Beliau menganggap kesalahan itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Kemudian ia memohon ampun kepada Allah swt. Maka beliau mendapat rahmat dan ampunan Allah swt.
